Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

Tuesday, November 26th 2013. | Puisi Cinta

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta – Siapa yang tidak mengenal Chairil Anwar ? seorang tokoh Penyair Legendaris Indonesia yang menjadi Inspirasi bagi Kemerdekaan Indonesia, Pria asal Medan yang lahir pada tanggal 26 Bulan Juli tahun 1922 ini adalah seorang penyair Legendaris asal indonesia yang karya-karyanya selalu hidup dalam batin atau digemari sepanjang zaman. Bukti karyanya yang abadi adalah sebuah penghargaan dari Dewan Kesenian Bekasi (DKB) pada tahun 2007 yang diterima oleh putrinya Evawani Alissa Chairil Anwar dalam kategori seniman sastra.

Puisi Chairil Anwar

puisi chairil anwar

Chairil Anwar yang dikenal sebagai penyair besar ini telah mengapresiasi dan menginspirasi dalam upaya para pejuang indonesia untuk meraih kemerdekaan bangsanya bangsa kita juga. termasuk dalam hal memperjuangkan bangsa Indonesia agar terlepas dari penjajahan. Puisi Chairil Anwar dalam hal ini adalah puisinya yang berjudul “Krawang-Bekasi”, yang diambil dari sajak “The Young Dead Soldiers” hasil buah karya dari Archibald MacLeish (1948). Puisi Chairil Anwar lainnya untuk bangsa ini adalah sajak yang berjudul “Persetujuan dengan Bung Karno” sebuah puisi yang menggambarkan dukungannya terhadap Bung Karno agar dapat terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. dan masih ada beberapa sajak atau puisi karya Chairil Anwar untuk bangsa ini.

chairil anwar

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
(1946)

Sia-Sia

penghabisan kali itu kau datang
membawa kembang berkarang
mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Lalu kita sama termangu: apakah ini?
Cinta ? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Taman

taman punya kita berdua tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

TAK SEPADAN    

Aku kita
Beginilah nanti jadinya
kau kawin, beranak dan berbahagia
sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak akan apa-apa
Aku terpenggal tinggal rangka

PENERIMAAN

kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk!! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

HAMPA
kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946

***

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

dari banyaknya Puisi Chairil Anwar, Puisi di atas merupakan Puisi tentang cinta hasil karyanya yang telah saya pilih dan saya seleksi agar hanya puisi tentang cinta saja yang saya tampilkan dihalaman ini agar tidak bercampur dan menjadi lebih khusus. beberapa Puisi Chairil Anwar di atas mungkin bisa menginspirasi anda dan bisa anda jadikan sebagai bahan referensi untuk membangkitkan semangat. semoga kumpulan puisi Chairil anwar di atas bisa bermanfaat untuk anda, dan terimakasih telah membaca puisi Chairil anwar