Penurunan permukaan tanah memang sangat berbahaya dan berdampak besar terhadap keberlangsungan hidup manusia. Permukaan tanah yang mengalami kemerosotan berpotensi untuk tenggelam di kemudian hari. Banyak kota yang berpotensi mengalami Land Subsidence, bukan hanya di Indonesia. Berikut kota yang mengalami penurunan permukaan tanah, simak ulasannya.

1. Jakarta, Indonesia

Salah satu kota yang mengalami penurunan permukaan tanah yang signifikan adalah Jakarta. Kota ini merupakan kota yang akan paling cepat tenggelam, menurut World Economy Forum. Struktur tanah di Jakarta yang merupakan Kawasan aliran sungai dan rawa menyebabkan permukaan tanah lebih cepat menyusut.

Bukan hanya WEF, BBC pun pernah melansir pernyataan mengenai hal tersebut. Mereka menyebutkan bahwa 95% wilayah Jakarta Utara akan tenggelam pada tahun 2050 mendatang. Selama 30 tahun belakangan, Jakarta mengalami Land Subsidence yang sangat signifikan. Jakarta utara dalam 10 tahun terakhir mengalami penurunan mencapai 2,5 meter.

2. Houston, Amerika Serikat

Kota kedua yang mengalami Land Subsidience adalah Houston di Amerika Serikat. Penyebab utama penurunan permukaan tanah di kota ini adalah aktivitas pengambilan air tanah. Dilansir dari The Houston Chronicle bahwa sejak tahun 1920, area Harris County telah mengalami penurunan permukaan tanah sebanyak 3 meter.

Sehubungan dengan hal tersebut, Badan Geologi Amerika Serikat memaparkan hal ini dengan lebih jelas. Mereka menyebutkan bahwa area Harris County bahkan mengalami penurunan permukaan tanah hingga 5 cm per tahunnya. Hal ini akan berimbas pada masyarakat yang tinggal di kota itu.

3. New Orleans, Amerika Serikat

Masih di Amerika Serikat, kota yang rentan terjadi Land Subsidience adalah New Orleans. Pada tahun 1930an, kota ini kawasannya sepertiga di bawah permukaan laut. Kemudian semakin parah pada tahun 2005 saat badai Katrina, wilayahnya bahkan setengahnya berada di bawah permukaan laut. Rata-rata setiap tahun New Orleans mengalami penurunan 1 cm.

4. Lagaos, Nigeria

Kota yang mengalami penurunan permukaan tanah selanjutnya adalah kota Lagaos di Nigeria. Lagaos dinobatkan sebagai kota yang memiliki jumlah penduduk terpadat di Benua Afrika. Jumlah penduduknya tercatat mencapai 21 juta pada tahun 2015 lalu.

Tahun 2012 lalu diadakan riset dengan tujuan mengetahui potensi banjir, erosi, longsor dan sebagainya di daerah itu. Riset yang menunjukkan bahwa garis pantai di Nigeria sangat rendah. lebih parahnya saat pasang daerah ini dihantam dengan air berketinggian 3 meter.

5. Beijing, China

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan bada tahun 2016 lalu, tercatat ada beberapa wilayah di Beijing yang mengalami Land Subsidience. Seperti yang terjadi di Huston, penurunan permukaan tanah di wilayah ini bahkan mencapai 10 cm per tahunnya.

Hal ini disebabkan adanya aktivitas pengambilan air tanah. Meskipun bukan daerah sekitar pantai, Beijing tetap menggunakan air tanah sebagai sumber air utama untuk masyarakatnya. Inilah yang menyebabkan kota ini mengalami penurunan permukaan tanah.

6. Washington, Amerika Serikat

Berdasarkan hasil riset tahun 2015 lalu, di temukan satu fakta mengejutkan mengenai kota ini. Hasilnya menunjukkan bahwa Washington sebagai Ibu Kota Amerika Serikat berpotensi mengalami Land Subsidience hingga 15 cm dalam kurun waktu 100 tahun mendatang.

Fenomena Land Subsidience yang terjadi di Washington ini disebabkan oleh mencairnya lapisan es dari zaman glasial akhir. Kawasan ini diyakini akan menjadi kota yang mengalami penurunan permukaan tanah secara perlahan kemudian tenggelam.

Itulah pembahasan megenai beberapa kota yang mengalami penurunan permukaan tanah. Penurunan tanah memang tidak dirasakan secara nyata karena terjadi secara perlahan, namun akan terlihat dalam jangka waktu yang lama. Kurangi aktivitas-aktivitas yang dapat menyebabkan ­Land Subsidience.